Benny Santoso dan Tempeman: Dari Dapur Sederhana Menjadi Gerakan yang Berdampak

admin

Updated on:

Di sebuah dapur sederhana di Bali, aroma kedelai yang baru direbus menyeruak, bercampur dengan suara pengukus yang berdesis pelan.

Dari sanalah kisah Benny Santoso, sang pendiri Tempeman, bermula. Bukan dari pabrik besar atau modal berlimpah, melainkan dari sebuah tugas akhir kuliah jurusan Culinary Management yang kemudian mengubah arah hidupnya.

Ketika banyak mahasiswa memikirkan konsep kafe kekinian, Benny justru memilih tempe, makanan yang sering dianggap “sederhana” dan “biasa”. 

“Saya ingin tempe tidak lagi dipandang sebelah mata,” ujarnya dalam beberapa kesempatan. Dari keinginan itu, lahirlah ide membuat produk olahan tempe yang bisa diterima generasi muda tanpa kehilangan identitasnya sebagai warisan kuliner Indonesia.

Dari Dapur Kecil Menjadi Gerakan Pangan

Tahun 2018, di sebuah ruang sempit di Denpasar, Benny Santoso memulai perjalanannya bersama tempe. 

Dapur itu bukan pabrik, melainkan bagian kecil dari rumah kontrakan yang ia sulap menjadi laboratorium cita rasa. Di atas meja kayu sederhana, ia bereksperimen: mencoba berbagai kombinasi kedelai, ragi, dan waktu fermentasi. 

Beberapa kali gagal, tempe busuk sebelum matang. Tapi Benny tidak berhenti. “Tempe itu seperti manusia,” ujarnya suatu kali, “butuh kesabaran dan lingkungan yang tepat untuk tumbuh.”

Dari tempat kecil itu, lahirlah Tempeman. Sebuah nama yang mencerminkan filosofi hidupnya: menjadikan tempe bukan sekadar makanan, tapi teman yang menemani setiap langkah menuju gaya hidup sehat, berkelanjutan, dan membumi. 

Produk perdananya adalah tempe cookies, ide yang muncul dari keinginannya mengenalkan tempe pada generasi muda dengan cara yang fun dan relevan. “Kalau anak muda malu makan tempe di warung, ya saya buat versi yang bisa mereka banggakan di kafe,” katanya sambil tertawa.

Tak butuh waktu lama, eksperimen kecil itu menarik perhatian. Tempe cookies, tempe protein ball, dan tempe chocolate bar buatannya mulai dikenal di kalangan pecinta kuliner sehat di Bali. 

Benny tak hanya menjual produk, tapi juga cerita tentang tempe sebagai hasil budaya yang berakar pada gotong royong dan kemandirian pangan Indonesia.

Namun, ia sadar satu hal: mengubah pandangan orang terhadap tempe tidak bisa dilakukan sendirian. Ia mulai membuka workshop pembuatan tempe di rumah produksinya. 

Pesertanya datang dari berbagai latar belakang, seperti ibu rumah tangga, pelajar, chef, hingga wisatawan asing yang penasaran dengan proses fermentasi alami khas Indonesia itu. Dalam setiap kelas, Benny tak sekadar mengajarkan teknik, tetapi juga nilai. 

Ia bercerita tentang petani lokal yang menanam kedelai non-GMO di Bali dan Jawa Timur, tentang pentingnya kedaulatan pangan, dan tentang bagaimana sepotong tempe bisa menjadi simbol keberlanjutan.

“Banyak orang asing terkejut ketika tahu tempe tidak dibuat di pabrik besar,” kata Benny dalam salah satu sesi berbagi di The Bridge Green School Bali. 

“Mereka melihat prosesnya sederhana, tapi penuh filosofi. Dari situ, saya sadar: tempe bukan hanya makanan, tapi alat diplomasi budaya.”

Dari dapur mungil itu, lahir kesadaran baru. Para peserta workshop mulai menceritakan pengalaman mereka di media sosial, bahkan ada yang membuka usaha tempe sendiri di negaranya. Tempe pun mulai menembus sekat budaya, menjadi simbol kolaborasi antara tradisi dan inovasi.

Kini Tempeman bukan hanya merek, melainkan gerakan. Gerakan yang mengajak masyarakat kembali menghargai bahan pangan lokal, memperkuat hubungan dengan petani, dan menjadikan tempe sebagai ikon kebanggaan Indonesia yang layak tampil di panggung dunia. 

Benny memulainya dengan satu niat sederhana, yaitu menjaga warisan nenek moyang agar tetap hidup di meja makan generasi masa depan.

Inovasi yang Tetap Menjaga Rasa Asal

Bagi Benny Santoso, berinovasi bukan berarti meninggalkan akar. Setiap butir kedelai baginya menyimpan kisah yang harus dihormati. 

Karena itu, sejak awal berdirinya Tempeman, ia berkomitmen hanya menggunakan kedelai non-GMO dari petani lokal Bali dan Jawa Timur sebagai bentuk perlawanan halus terhadap dominasi impor yang menekan harga kedelai dalam negeri.

“Kalau kita mau tempe tetap jadi warisan bangsa, ya harus dimulai dari bahan bakunya,” ujarnya.

Dengan prinsip itu, Tempeman tumbuh bukan sekadar bisnis kuliner, tetapi ruang eksperimen antara tradisi dan kreativitas. Benny menggabungkan fermentasi klasik dengan pendekatan modern,dari tekstur, rasa, hingga kemasan agar tempe bisa diterima lintas generasi.
Hasilnya, tempe tampil dalam bentuk baru: camilan, dessert, hingga plant-based snack bar, tanpa kehilangan identitasnya.

Salah satu inovasi paling mencuri perhatian adalah Tempe Chocolate Bar perpaduan manis-gurih antara cokelat premium dan tempe kering. Produk ini lahir dari keinginannya menghadirkan oleh-oleh khas Bali yang tetap berakar pada cita rasa lokal.
Dari eksperimen itu, Benny bukan hanya menjual produk, tetapi membuka percakapan tentang tempe: tentang fermentasi, keseimbangan alam, dan kesabaran manusia.

Kini, lewat kemasan modern dan kisah di setiap labelnya, Tempeman tak hanya menjual makanan, tapi juga kebanggaan.
“Tempe juga bisa tampil elegan,” kata Benny. “Yang penting, jiwanya tetap sederhana.”

Benny membuktikan bahwa inovasi sejati bukan soal mengubah bentuk, melainkan menjaga ruh. Dari dapur kecil di Bali, semangat itu menjalar: bahwa makanan tradisional pun bisa berevolusi tanpa kehilangan rasa asalnya.

Dari Rasa Cinta Jadi Aksi Nyata

Benny selalu percaya bahwa cinta sejati pada tradisi harus diiringi tindakan nyata. Cinta pada tempe baginya bukan sekadar nostalgia rasa, melainkan tanggung jawab sosial. 

Karena itu, di balik setiap produk Tempeman, ada upaya memberdayakan orang-orang yang selama ini berdiri di belakang dapur: para petani, perajin, dan ibu rumah tangga di desa.

Ia memulai langkah kecil dengan menggandeng kelompok tani di Bali dan Jawa Timur. Benny tak hanya membeli kedelai mereka dengan harga pantas, tapi juga mengadakan pelatihan tentang pengolahan pascapanen dan manajemen produksi. 

“Petani kita punya kualitas luar biasa, mereka cuma butuh kesempatan untuk tumbuh,” ujarnya.

Cinta itu juga menjelma dalam bentuk kepedulian lingkungan. Proses produksi Tempeman mengutamakan konsep zero waste. Limbah kedelai diolah kembali menjadi pakan ternak atau pupuk organik, dan kemasannya menggunakan bahan ramah lingkungan. 

“Kalau mau bicara kebaikan lewat makanan, kita juga harus menjaga bumi tempat bahan itu tumbuh,” kata Benny.

Lebih dari sekadar bisnis, Tempeman berkembang menjadi gerakan kecil yang menginspirasi. 

Benny aktif mengisi kelas dan workshop tentang sustainable food dan kewirausahaan sosial, mengajak generasi muda untuk melihat pangan lokal bukan sebagai komoditas murah, melainkan identitas bangsa.

Ia sering berkata, “Kalau kamu cinta sesuatu, jangan hanya dinikmati. Tapi rawat, kembangkan, dan bagi manfaatnya.”

Gerakan itu kini menular. Banyak anak muda yang mulai tertarik membuat produk turunan tempe, membuka warung tempe kreatif, hingga menciptakan karya seni dari filosofi fermentasi. 

Tempeman menjadi semacam simbol bahwa perubahan bisa lahir dari dapur, tempat sederhana di mana cinta, kesabaran, dan pengetahuan menyatu dalam satu adonan.

Dan di balik semua pencapaian itu, Benny tetap berjalan dengan langkah yang sama seperti dulu: perlahan, penuh makna. Baginya, cinta pada tempe bukan soal mempertahankan masa lalu, melainkan memastikan masa depan tetap punya akar yang kuat.

Ia membuktikan bahwa ketika cinta diolah dengan ketulusan dan kerja keras, ia bisa menjelma menjadi gerakan yang menghidupi banyak orang dari butir kedelai hingga kehidupan manusia.

Menjaga Warisan, Menyulam Harapan

Perjalanan Benny Santoso bersama Tempeman bukan hanya tentang produk pangan, tetapi tentang menjaga warisan dan menyulam harapan baru bagi generasi muda.

Dari dapur kecilnya di Bali, ia telah membuktikan bahwa inovasi dan kebaikan bisa tumbuh dari bahan paling sederhana: kedelai, kesabaran, dan cinta.

Dedikasi itu tak luput dari perhatian. Pada tahun 2024, Benny dianugerahi Satu Indonesia Awards dari Astra untuk kategori wirausaha. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upayanya mengangkat tempe sebagai ikon pangan tradisional Indonesia ke panggung global tanpa kehilangan akar budaya.

Namun, bagi Benny, penghargaan hanyalah bonus. “Yang paling penting, lebih banyak orang mengenal tempe bukan sebagai makanan murah, tapi sebagai simbol kebersamaan dan keberlanjutan,” tuturnya.

Kini, Tempeman bukan sekadar merek, melainkan gerakan yang menumbuhkan kesadaran baru tentang pangan lokal. Melalui setiap produk, workshop, dan kampanye edukasi, Benny terus menanamkan pesan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil, dari dapur yang sederhana, dari tangan yang mau bekerja, dan dari hati yang mencintai.

Dampak nyata dari gerakannya kini meluas: petani lokal mendapatkan kehidupan yang lebih layak, anak muda mulai kembali bangga terhadap warisan kuliner bangsa, dan dunia luar semakin mengenal tempe sebagai sumber protein masa depan.

Semua itu lahir dari satu tekad sederhana, yakni membuat sesuatu yang berdampak, bukan hanya enak di lidah, tapi juga menyehatkan bumi dan menghidupkan banyak orang.

Dalam setiap gigitan tempe cookies atau potongan tempe cokelat, tersimpan nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu: gotong royong, ketulusan, dan semangat menjaga bumi.

Dan mungkin, itulah warisan sejati yang ingin Benny tinggalkan bukan hanya rasa, tapi cara pandang baru terhadap makanan dan kehidupan itu sendiri.

#APA2025-PLM

Leave a Comment